Kumpulan Cerita Pendek 2017
Anggrek Hitam
Awal Perjumpaan
Part 1
Pagi ini cukup cerah seperti hari-hari biasanya. Tidak ada yang special dari hari ini. Cuma hari Sabtu yang cerah, tak berawan namun indah. Hari yang pas untuk melakukan aktivitas pagi.
Aku adalah Kai, anak SMA biasa yang tinggal di lingkungan yang biasa pula. Aku tinggal bersama orang tuaku yang bukan siapa-siapa di sebuah desa biasa. Pagi ini tak biasanya aku bangun pagi-pagi sekali, Dimana jam masih menunjukkan pukul 5:15 pagi. Hawa dingin pagi hari masih terasa menusuk. Ku paksa saja diriku untuk membusuk muka dengan air dingin. Hingga mata dan badanku terasa segar dan bersemangat.
Pagi ini aku berencana untuk berlari pagi di jalan persawahan dekat dengan rumahku. Hamparan sawah hijau yang membentang, indah sinar mentari pagi dan jalan yang cukup mulus membuat tempat itu sangat cocok untuk berlari pagi. Segera setelah berganti pakaian, kutunggangi saja motor bebek ku yang biasa ke tempat itu. Tidak terlalu banyak orang yang terlihat di sepanjang jalan. Cuma bapak-bapak petani yang biasa, yang sedang mengawasi area persawahannya yang biasa pula. Matahari baru nampak setengah, tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, langsung saja kukeluarkan HP ku yang biasa yang setidaknya sudah kumiliki sejak masuk SMP, untuk mengambil foto dari momen yang tak biasa ini. Tanpa menghiraukan yang lain lagi, mulai saja aku berlari menyusuri jalan persawahan yang biasa ini. Tak berapa lama, sekitar 30 menit aku berlari dan menikmati pemandangan sawah serta udara sawah yang segar, aku kembali ke rumahku yang biasa.
Tak terasa hari yang biasa ini berjalan dengan cepatnya. Sudah menjelang tengah hari, seperti biasa perut mulai tak bisa menahan lapar. Namun tiba-tiba tak biasanya terdengar suara rintihan dari luar rumah.
“Kaiiiii, Kaiiii…” terkejut, aku lalu berlari keluar rumah dan sesampainya di teras ternyata suara itu dari Doni dan Putra.
Helehh... dropshy, ternyata mereka.
“You olok like baru dikejar ghost aja, Kai!” ejek Doni dengan aksen kebule-bulannya.
Memang sih dia itu darah campuran tapi nggak perlu gitu juga sih.
Doni memang darah campuran antar lokal dengan bule. Ayahnya berasal dari Jepara dan ibunya berasal dari Inggris.
Tapi anehnya bahasa Inggrisnya ancur banget. Hehe.
Doni lahir di daerah Papua, besar disana, namun TK dan SD di Kalimantan lalu SMP dan SMA disini yaitu di Bali. Dia sering berpindah-pindah alias nomaden karena ayahnya ialah seorang arsitek yang mengharuskan mereka untuk tidak menetap terlalu lama di suatu daerah.
“Diam kau, Don, mengganggu saja kau. Sini kau kalau berani!”
“Hush, stop. tiang nggak suka kalian berantem” tengah Putra yang logat Bali-nya sangat kental, sudah kayak susu kental manis. Putra memang anak Pulau Dewata asli. Semua keluarganya berasal dari Bali bahkan mungkin nenek moyangnya juga tak lepas dari pulau ini. Ayah dan Ibu Putra adalah seorang seniman. Ayahnya seorang pelukis yang handal dan Ibunya seorang penari yang luwes, tidak mengherankan lagi kalau dia memang ahli kalau dihadapkan dengan bidang ini. Jadi mereka berdua itu sohib ku yang biasa tetapi herannya tumben-tumbenan mereka ke rumahku ini.
“Pasti ada udang di balik bakwan nih” pikir ku memperkirakan apa yang akan mereka minta.
“Ok deh, well you guys ngapain here. Seldom-seldom, you guys datang here” tanyaku sambil menirukan gaya Doni
“Weiss, you menghina me ya, Kai?!”
“Hehe, nggak kok. Kidding” menyengat girang “Jadi ada apa kalian berdua ke sini?”
“Gini nih Kai, kebetulan tadi kita liat postingannya kamu di Instagram. Jadi kami mau nanya dimana kamu ngambil foto kayak gitu?” Jawab Putra.
“Ohh, yang itu. Aku ngambilnya pas lagi jogging tadi pagi”
“Oohh!” Sanggah mereka serentak
“Anyway, we boleh ikut nggak jogging-jogging sambil snap-snap picture?”
“Boleh-boleh, tapi nggak besok juga ya! Gimana kalau hari Minggu, minggu depan?” Saranku.
“Siap bosque!” Mereka berdua menyengir kayak anak kecil baru dikasi permen.
Hari biasa demi hari biasa lainnya datang dan berlalu. Dan hari ini adalah hari Minggu, hari yang telah dijanjikan. Pagi-pagi sekali Doni dan Putra datang ke rumahku. Walau mereka belum berteriak seperti biasanya, aku sudah tahu mereka datang. Itu karena suara riuh dari gonggongan anjing dan derungan kenalpot motor mereka yang khas. Disana lalu aku keluar seolah-olah telah memprediksi kedatangan mereka.
“Hai..” sapa ku biasa, dari belakang mereka.
“Weiss, kamu kok tahu kita udah nyampe?” Tanya Putra.
“Yes, betul. You kok tahu kita udah arrived?” Jelas Doni keheranan.
“Iya dong, I kan punya sih sense. Hehe”
Tapi sebenernya boong. Hehehe
Setelah aku mencuci muka dan minum air putih. Kami langsung saja berangkat. Tak ada yang aneh di sepanjang jalan kami menuju lokasi. Hanya pohon perindang biasa di pinggi jalan, hamparan sawah yang sebagian sudah ditanami pagi dan sebagian masih dibajak serta beberapa orang terlihat juga sedang memiliki pemikiran yang sama dengan kami.
Kami parkir motor bebek kami di pinggir jalan dan memulai sedikit berjalan sebagai pemanasan. Sembari berlari-lari kecil dan mengambil foto serta membuat story. Nampak dia orang wanita sedang berlari di depan kami. Sedikit kusenggol tangan Doni yang berada di sampingku dan menggelengkan kepalaku ke depan untuk memberikannya kode. Antar kurang peka atau emang tidak mengerti, dia sama sekali tidak menoleh dan terus melanjutkan membuat story.
Huh dasar belasteran alay, keluh ku dalam hati.
Selang sekitar 10 langkah, Doni tersadar dan berbalik memberi tahu ku. Alih-alih memberikanku kode dia Malang ngomong kenceng-kenceng. Dasar ini orang.
Aku berbisik kepada Doni “Don, kita ikutin cewek-cewek itu yuk!” sepertinya kedua wanita itu belum sadar kalau kami berada di belakang mereka.
Aku dan Doni terus mengikuti kedua wanita itu, meninggalkan Putra sendiri dimana dia melihat sebuah objek yang bagus yang telah membangkitkan jiwa seninya. Aku mencoba meneliti kedua wanita itu dari belakang. Dari posturnya, cara mereka berjalan dan cara berpakaiannya, bisa aku simpulkan mereka bukan tinggal di sekitar desaku. Sesekali aku juga melirik ke arah Doni yang juga nampak penasaran dan sedang menduga-duga siapa kiranya kedua wanita itu. Apakah mungkin mereka adalah wanita dari desa sebelah, tapi anehnya aku tidak melihat kendaraan lain, entah itu motor, mobil atau bahkan sepeda selain milik kami bertiga.
“Ah itu mungkin karena mereka ke sini diantar kali!” gumam ku di hati mencoba berpikir positif.
Semakin lama, semakin jauh kami berlari dan semakin berani pula kami berdua mendekat. Sekitar 5 meter jarak kami dengan kedua wanita itu. Sesekali terlihat mereka ke arah kami. Tampaknya mereka telah menyadari kami di belakang namun mereka hanya terus melanjutkan berlari seolah-olah mengacuhkan kami.
“Ssttt, ssstt” Doni menyenggol sikuku. Aku menoleh dan mengangguk pertanda mendengarkan.
“Kai, kayaknya they udah know we dibelakang deh !” berbisik-bisik “Gimana kalau we deketin they then kenalan with they?”
“Ayok, daripada penasaran kan!” Aku mengangguk tanda persetujuan.
Sekitar 4 meter, 3 meter lalu 2 meter jarak kami tapi mereka masih saja mengabaikan kami. Kami terus mengejar hingga akhirnya berada di samping mereka.
"Hai, ladies" sapa Doni memulai aksinya "I am Doni, that my sohib, Kai"
Mereka berdua tertawa kecil seolah sedang melihat 2 badut beraksi. Atau setidaknya 1 badut karena siapapun itu pasti tertawa kalau mendengar gaya bicara Doni untuk pertama kalinya. Mereka berdua mulai memperlambat, berjalan pelan dan akhirnya berhenti.
"Hai, aku Saras" mengulurkan tangan sembari tersenyum "ini sahabatku Laksmi"
Kami berjabat tangan, tak sengaja aku melirik tangan mereka berdua. Ternyata gelang yang mereka pakai sama. Gelang yang cukup indah dengan liontin terlihat seperti bunga anggrek namun berwarna hitam.
"Ngomong-ngomong kalian berasal darimana?" Tanyaku sembari kami berjalan.
"Kami berasal dari desa sebelah" sahut Laksmi menjawab rasa penasaranku tadi.
"You two beautiful banget" puji Doni dengan wajah lugunya "Kok bisa ya village sebelah have girl kayak you two?"
Mereka tersenyum namun terlihat agak malu-malu. Setelah mendengar pujian dari Doni. Ketika itu perutku juga terasa digelitik mendengarkan gombalan Doni. Seakan-akan urat malu Doni telah putus karena kedua wanita ini.
"Oh iya, kalian sekolah dimana?" Mereka berdua saling menoleh seolah bingung "Gini-gini, maksudnya seandainya sekolah kita sama pasti kalian kenal deh sama aku" kelasku sedikit menyombongkan diri serta melucu.
"Emang you siapa, Kai?" Lawan Doni sedikit merengut.
"Hehehe, bukan siapa-siapa sih, cuma anak SMA biasa" mukaku memerah tak karuan. Saras dan Laksmi tersenyum-senyum melihat tingkah kami.
"Jadi kami itu sekolah di luar Bali. Kami baru saja pindah bersama orang tua kami dan kebetulan kami tinggal di desa sebelah" Jelas Saras.
"Dan juga orang tua kami itu bekerja di perusahaan yang sama dalam team yang sama pula. Jadi sejak kecil kami sering ketemu dan jadi sahabat bahkan sudah seperti saudara" sedikit tambahan dari Laksmi, menghilangkan sedikit rasa penasaranku dengan gelang dan liontin mereka yang tak biasa.
Tak terasa jalan persawahan telah habis dan di depan cuma ada hamparan pantai dengan pasir hitam. Mata kami berempat sempat tak bisa lepas dari eloknya pantai yang dberi nama Pantai Lima ini. Deburan ombak dan desiran angin pantai menghilangkan ingatan kami sesaat. Puas memandangi lautan lepas, kami sempatkan diri berselfie ria sebagai sebuah kenangan anak kekinian. Saras bilang bahwa mereka sedang terburu-buru. Jadi mereka pergi meninggalkan kami, pergi menuju arah timur dimana mereka bilang akan dijemput di sana. Di pantai sebelah. Kami melambaikan tangan pertanda salam perpisahan.
"Don, kita pulang juga yuk!" Ajakku.
"Let's Go"
Setelah agak jauh berjalan, aku tersadar.
"Sialan Don, kok kita nggak minta kontaknya mereka?" Sambil menjambak kepala.
"Oh iya, WTF. That karena you, Kai!"
"Bukan, ini gara-gara kamu!" Saling menyenggol sambil terus menyalahkan masing-masing.
"You!"
"Kam!"
"You!"
Tidak mau menyulut keributan aku terdiam dan mengabaikan tingkah Doni. Sembari merenung mengingat kejadian tadi.
Kok aku bisa lupa ya? Sebenarnya apa yang udah terjadi.
Komentar
Posting Komentar