Kumpulan Cerita Pendek 2107 Part 2
Anggrek Hitam
Awal Perjumpaan
Part 2
Suara klakson mobil yang tidak sabaran memang mengganggu. Padahal lampu lalu lintas baru saja menyala hijau. Sungguh tak sabaran, entah apa yang sedang mereka kejar. Beginilah keseharian seorang siswa SMA biasa, bolak-balik rumah-sekolah dan bergulat dengan kerasnya jalan raya. Belum lagi ada banyak tugas yang menunggu dan ujian yang membebani. Dimana terkadang membuat banyak siswa SMA yang merasa stres.
Untuk sedikit menghilangkan rasa stres, aku membuat motor ku berhenti di sebuah Minimarket tidak jauh dari lampu lalu lintas yang baru saja aku lewati. Tak biasanya aku singgah disini. Aku lebih sering langsung saja pulang ke rumah segera setelah bel pulang sekolah berbunyi. Setelah melewati pintu depan, segera aku disambut dengan sapaan dan senyuman dari pegawai Minimarket. Layaknya pengunjung yang lain, aku mencoba mengabaikan keramahan yang diarahkan kepadaku. Minimarket ini sangatlah bersih, barangnya tertata dengan rapi dan udaranya juga sejuk hingga terkesan mampu memuaskan setiap pengunjung yang datang. Beberapa menit berkeliling kemudian aku menghentikan Langkahku di rak cemilan. Aku mengambil sebuah cemilan dan minuman dingin serta tidak lupa untuk membayar di kasir. Aku memakan cemilan ku sembari duduk di depan Minimarket. Siang ini, lalu lintas cukup padat walau cuaca sangat terik. Terlihat seperti semua orang itu punya pekerjaan yang sangat penting hingga bisa mengabaikan cuaca terik dan udara yang sangat panas ini.
Perhatianku ke jalan raya teralihkan ketika aku melihat 2 orang wanita cantik berpakaian biasa. Mereka tepat berhenti di depanku atau setidaknya di depan Minimarket ini. Mereka menoleh ke arahku dan memberikan tatapan, bukan sebuah tatapan dingin namun sebuah tatapan biasa. Namun anehnya aku merasa seperti mengenal dan pernah bertemu dengan mereka. Masih terlihat mereka sedang menatapku lalu sedikit berbincang dan berjalan ke arahku. Entah hanya perasaanku atau mereka memang menuju ke arahku.
“Hai, Kai!” salah satu dari mereka menyebut namaku dan melambai.
“Hai..!” aku berpura-pura mengenal mereka.
“Ini aku Laksmi dan ini Saras” mengingatkanku seolah-olah mereka bisa membaca pikiranku. Padahal aku sama sekali tidak menunjukkan sikap yang aneh ketika melihat mereka.
“Oh iya, aku ingat kok. Kalian kok bisa disini?”
“Eeee” Laksmi terlihat bingung lalu menoleh ke Saras “Kami cuma pengen belanja kok”
“Oh gtu ya”
“Kamu sendiri ngapain disini?” Tanya Saras “Kalau ngilangin stres tuh bukan disini tempatnya” jelasnya lagi sebelum aku punya kesempatan untuk menjawab.
“Loh kok kamu tau sih?”
Mereka hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.
“Oh iya, aku mau pulang dulu nih, kayaknya ibu aku udah mulai nyariin!”
“Iya hati-hati ya” jawab Saras.
“Tapi sebelum aku pulang, boleh nggak aku minta kontak kalian? PIN, No. WA, IG atau apalah!”
“Nanti kita bakal ketemu lagi kok, nanti kami kasi deh” tolak Laksmi “Ibu kamu udah khawatir tuh, mendingan kamu ceperan pulang” saran Laksmi. Aku segera saja bergegas menunggangi motor ku, seraya tersenyum ke arah mereka yang masih berdiri disana melihatku pergi.
Di tengah jalan menuju rumah, aku masih sedikit bingung dengan ucapan dari kedua wanita itu. Penampilan mereka tidaklah aneh, sikap mereka juga tidak begitu aneh tapi yang mengherankan ialah kata-kata yang mereka ucapkan sungguh tidak biasa. Sejenak aku tinggalkan pemikiranku tentang mereka. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumahku yang biasa.
Akhirnya sampai di rumah, ibu yang cemas mulai lega melihat anaknya tercinta telah pulang. Aku juga lega ibuku tidak sampai melapor ke polisi hanya karena anaknya telat pulang 30 menit. Ibuku sangat-sangat posesif. Setidaknya begitulah dia sekarang. Dulu sikapnya tidaklah begitu terhadapku. Namun semenjak aku mengalami kecelakaan dulu sikapnya menjadi berubah. Kejadian itu terjadi ketika aku SMP. Waktu itu aku duduk di kelas 8. Karena jarak yang cukup jauh dan belum diperbolehkannya aku menaiki sepeda motor serta diriku yang tidak mau merepotkan orang tua maka aku memilih untuk menaiki sepeda biasa sebagai kendaraanku menuju dan pulang dari sekolah. Ketika itu, matahari tidak begitu terik, angin bertiup sepoi-sepoi dan semuanya nampak indah. Aku sedang mengayuh sepedaku pulang. Jalan terlihat lengang, hanya 1 atau 2 buah sepeda motor dan mobil yang melintas. Kali ini aku bersepeda sendirian tanpa ditemani kedua sahabatku. Karena mereka sedang ada kursus dan pulang agak sore. Hingga jadilah aku sendirian mengayuh sepedaku pulang. Sekitar 1 kilo meter dari sekolah, tiba-tiba tanpa ada tanda maupun firasat buruk, sepeda motor hitam dengan sekejap melesat dan menyerempet ku dari belakang. Alhasil menyebabkanku terjatuh ke sisi kiri jalan. Hingga menyebabkan luka goresan dan lebam di kaki dan tanganku akibat bergesekan dengan aspal dan juga tertimpa sepeda yang lumayan berat bagiku. Kebetulan kondisi jalan kala itu sedang sepi jadi tidak ada seorang pun yang menolongku. Aku pinggirkan diriku beserta sepedaku ke tepi jalan lantas duduk dan menenangkan diri. Aku lihat sekujur tubuhku untuk memastikan tidak ada luka yang lebih serius. Setelah tenang aku kembali mengayuh sepedaku menuju ke rumah sambil sedikit menahan sakit. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit luka gores biasa di beberapa sisi kulitku, yang mana hanya beberapa luka normal bagi seorang lelaki. Namun sayangnya ibuku tidak mau mengerti dan semenjak kejadian itu selama SMP aku selalu diantar dan dijemput oleh ibu. Serta ibu juga bersikap terlalu cemas dan agak mengekang ku.
“Darimana aja kamu, Kai?”
“Nggak BU, cuma jalannya tadi macet banget makanya telat nyampe rumah” jawabku singkat dan langsung saja melesat ke kamar. Dengan sekejap aku berganti baju, dilanjutkan dengan makan siang lalu tidur. Karena tak ada hal lain yang harus dikerjakan entah janji dengan teman maupun tugas yang mendesak yang harus dikumpulkan.
Aku tidur sekitar 1 jam, ketika terbangun awan mendung menampakkan wujudnya yang suram seperti akan turun hujan kali ini. Daripada nanti kehujanan bila keluar berlanjut aku menonton TV. Sekarang sekitar pukul 4:15 sore, dimana acara kesukaanku sedang tayang. Sungguh jarang aku bisa menontonnya akhir-akhir ini. Bukan karena aku sibuk tapi terkadang acara ini diulang-ulang terus hingga aku bosan serta tidak jarang pula acara ini tidak ditayangkan. Tetapi kali ini keberuntunganku sedang baik, acaranya tayang kali ini dengan episode yang baru pula. 45 menit sudah aku menonton, langit di luar tak terlihat mendung lagi. Nampak awan mendung telah ditiup oleh sang angin. Matahari sore kembali bersinar dengan eloknya. Momentum yang tepat untuk keluar rumah. Seperti biasa hal yang senang aku lakukan di sore hari ialah bermain sepak bola bersama teman-teman. Di pantai mereka biasanya telah menungguku. Kuambil bola di kamar dan segera meluncur ke pantai.
“Lama kali kamu, Kai!” Begitulah sambutan yang kuterima dari Putra saat aku sampai.
“Udahlah tra, yang penting kan dia udah dateng” jawab Heri salah satu temen kelasku.
Aku hanya menyengir sambil memegang bola layaknya pemain profesional. Sepuluh pemain profesional tingkat desa telah terkumpul m. Tak mau menunda lagi kami mulai saja pertandingan profesional kelas dunia rasa desa ini. Aku berada satu tean dengan Putra, Doni, Heri dan Putu melawan team dari desa sebelah. Pertandingan berlangsung dengan sengit. Tidak ada team yang mau mengalah sama sekali. Jual beli serangan terus terjadi dengan skor sementara 2-1 untuk kemenangan team kami. Tapi aku belum puas untuk mencetak gol tambahan. Matahari hampir tenggelam tanda pertandingan akan segera berakhir. Doni sedang menggiring bola di sisi lapangan. Dia melewati satu dan dua pemain lawan lalu mengoper ke arahku yang sudah sedia menunggu di depan gawang. Dengan satu dan dua kontrolan, aku berhasil menjinakkan bola. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan ku tembakan ke arah gawang. Dan..
“Gol..” semua berteriak dengan lantang, menunjukkan selebrasi atas tambahan skor yang kami raih. Putra dengan menari-nari, Doni bersaltoria, dan Heri serta Putu memutar-mutar baju mereka di udara layaknya seorang koboi. Matahari telah kembali ke peraduannya, sepertinya hanya inilah skor yang bisa kami peroleh dalam pertandingan kali ini. Team lawan terlihat kecewa atas kekalahan mereka tapi baik team lawan maupun team kami sangatlah menikmati pertandingan biasa nan sederhana ala anak desa ini.
Ditengah-tengah selebrasi atas kemenangan kami kali ini. Tak disangka lagi-lagi perhatianku teralihkan dengan adanya 2 wanita berdiri di kejauhan dan menghadap ke arah kami. Aku mencoba untuk mengabaikan dan tak melihat ke arah mereka karena aku tahu mereka bukanlah Saras dan Laksmi.
Komentar
Posting Komentar